Selasa, 10 Maret 2015

Lukisan Hujan

Sitta Karina bukanlah penulis yang asing lagi bagi gue. Novel pertamanya yang gue baca adalah Aerial, yang sayangnya hilang entah kemana setelah gue lulus SMA. Lalu novel keduanya yang -awalnya gue sangka- gue baca adalah Putri Hujan dan Ksatria Malam. Lalu keluarlah novel barunya yang berjudul Rumah Cokelat. Gue baca, kemudian gue menyadari bahwa gue nyaman dengan gaya tulisannya. Berbobot tapi ringan, buat gue sedikit mikir kalau lagi baca novelnya, tapi gue bisa dengan lancar baca novelnya sampai akhir. 

Kemudian keluarlah serial Magical Seira. Awalnya gue baca yang pertama, lalu ternyata keluar Seira& Abel's Secret, dan ternyata ada cerita selingan yang menyangkut Chiko Hanafiah, Sand Castle. Lalu seri Magical Seira yang terakhir, Seira and The Destined Farewell. Gue merasa bahwa gue makin cocok dengan gaya tulisannya.

Novel lainnya yang sudah gue baca, Dunia Mara. Yang belakangan gue tahu bahwa itu adalah gabungan dari cerita bersambung Kak Sitta yang pernah di publish di salah satu majalah. Cerita tentang Hanafiah lainnya. Bikin gue makin penasaran karena kabarnya Kak Sitta mau mencetak ulang Lukisan Hujan. Ceritanya Diaz - Sisy. Yang seinget gue, dulu pernah gue baca ceritanya.

Jujur gue nunggu banget terbitnya Lukisan Hujan. Sampai mantengin twitter buat pre-order di salah satu toko buku online. Saat sudah bisa pre-order Lukisan Hujan dengan tanda tangan Kak Sitta, ternyata gue kehabisan. Untungnya ada toko buku online lain yang menjual Lukisan Hujan + ttdnya. Setelah memesan, ternyata novelnya sampai di rumah lebih cepat dari dugaan gue. Dan gue suka banget covernya.



Lukisan Hujan berada tetap di meja belajar dan belum gue baca sampai beberapa hari yang lalu. Gue mencari waktu yang pas dimana gue bisa baca sampai habis tanpa terinterupsi tugas kuliah yang datang tiada henti. 

Setelah gue selesai baca, gue jatuh cinta dengan sosok Diaz. Bagaimana Diaz, yang seharusnya bersama dengan para Hanafiah lainnya tinggal di dunia yang berbeda dengan kehidupan sehari-harinya. Meski sulit, Diaz lebih suka kehidupannya. Dan tetap menjaga baik hubungan dengan sepupu-sepupunya. Lalu Sisy, yang seperti digambarkan Kak Sitta, manja tapi juga bisa bersikap dewasa. Yang perlahan bisa merubah Diaz menjadi sosok yang lebih baik lagi. 

Cerita yang digambarkan oleh Kak Sitta membuat gue membayangkan apa rasanya jadi Sisy. Bisa tinggal di lingkungan yang begitu seru dengan tetangga seperti Igo, Aga, Nina, Fey, dan yang lainnya. Dan yang terutama, bisa kenal Diaz. Gue yang tidak mempunyai kakak laki-laki sama sekali, jadi membayangkan bagaimana rasanya menjadi Sisy yang memiliki Diaz dan Fey, bahkan Tizar. Juga bagaimana jadi Bianca yang mempunyai sosok seperti Reno. 

Diaz dengan dilemanya tentang Anggia, Mirelle, juga Sisy. Mungkinkah cerita seperti itu bisa terjadi di dunia nyata? 

Lukisan Hujan bisa membuat gue dengan mudah membayangkan kejadian-kejadian di dalamnya. Membuat gue terasa ikut serta di dalamnya. Cerita tentang klan Hanafiah yang sepertinya kurang surreal bisa terjadi di Indonesia, tapi siapa yang tahu? Gue sangat menikmati cerita Diaz - Sisy ini. Terlepas dari logika yang mungkin terjadi di kehidupan nyata. Bahkan jujur, gue sama sekali tidak mempermasalahkan cerita-cerita yang justru kurang logis.

Gue penasaran banget sama Nara. Juga Sword Tears. Setelah gue ingat-ingat, Sword Tears pernah di bahas sedikit di Magical Seira dan Dunia Mara

Dari Lukisan Hujan gue mempelajari, bahwa setiap orang memiliki lowest point-nya masing-masing. Bahkan Diaz dengan sifat seperti itu pun, bisa terlihat sangat terpuruk setelah mengetahui Sisy akan pergi.
Gue selalu menganggap Sisy cengeng, Diaz membatin seraya tersenyum, tapi lihat siapa yang sekarang pengin nangis.
Seperti Nara dan Reno. Atau bahkan Anggia. Dengan predikat apa pun yang menempel, suatu saat pasti akan ada orang yang dapat merubah kehidupan mereka. Suatu saat, setiap orang akan menemukan cinta sejatinya. Contoh gampangnya, lihat Diaz. Tinggal mereka sendiri yang memilih, apa yang lebih diinginkan, dan dibutuhkan dalam hidupnya.

Juga apa yang cukup mengguhah hati gue adalah kata-kata ayah Diaz, 
 live for the moment to make it last forever
Setelah Lukisan Hujan akhirnya selesai gue baca hingga kata terakhir di buku itu, gue menyadari bahwa novel yang gue baca dulu itu adalah Lukisan Hujan, bukan Putri Hujan dan Ksatria Malam. Yang paling buat gue yakin kalau yang gue baca Lukisan Hujan adalah saat Sisy dikejar oleh Ipen dan teman-temannya, Diaz datang menyelamatkan Sisy.

Seperti yang dikatakan Kak Sitta, memang terdapat perbedaan dari Lukisan Hujan yang telah dicetak ulang dan versi sebelumnya. Karena sudah bertahun-tahun yang lalu gue baca Lukisan Hujan, gue tidak terlalu banyak menyadari perubahan-perubahan yang terjadi. Tapi ada beberapa perubahan yang gue ingat, seperti hilangnya kata-kata Anggia, atau Inez, atau Mirelle (gue tidak begitu ingat), yang bilang bahwa ia tidak ingin tidur larut malam untuk menjaga penampilannya, khususnya bagian wajah. Kemudian, di bagian terakhir buku, versi lama menggambarkan Diaz senang karena ternyata Sisy bisa waltz, sedangkan pada versi baru, mereka langsung waltz di gazebo. Gue pribadi, lebih suka jika bagian Diaz senang mengetahui Sisy bisa waltz tidak dihilangkan. Tapi Kak Sitta pasti sudah mempertimbangkan, apa saja yang dihilangkan, diganti, atau malah ditambah.

Overall gue suka banget sama Lukisan Hujan, terutama versi barunya karena kata-katanya sudah lebih tersusun dan penggunaan kata ganti namanya sudah tertata, tidak seperti versi lamanya. 

Gue sangat menunggu versi baru cerita Hanafiah lainnya, Inez, Chris, Bianca, Austin, bahkan kelanjutan kisah Diaz - Sisy. Dan gue sangat sangat menantikan cerita Nara Hanafiah dimana ia berperan sebagai pemeran utamanya.

Rabu, 04 Maret 2015

Karemia #7

Mia memandang kosong televisi di depannya. Sejak menerima telepon dari ayahnya dan akhirnya menemukan jawaban kemana ibunya pergi selama ini, Mia tidak bergerak dari posisi terakhirnya. Mia sudah tidak histeris lagi, tapi air matanya masih keluar kadang-kadang. Mia tidak bersuara, tidak makan, tidak minum, tidak menghapus air matanya dan membiarkannya kering dengan sendirinya, tapi kemudian pipinya basah lagi, lalu kering lagi.

Mia hanya bersender pada sofa. Dia seperti patung. Secara harfiah. Yang membuktikan Mia masih hidup hanyalah dadanya yang naik turun karena bernafas dan air mata yang sesekali keluar.

Aldy selalu mengajak mia bicara meskipun tidak ada jawaban. Aldy awalnya membiarkan Mia seperti itu. Dia sadar, dalam waktu kurang dari 48 jam menerima dua berita buruk, bagi siapapun, ini memang tidak mudah. Tapi setelah jarum jam berhenti di angka 11, Aldy sudah tidak tahan lagi. "Mi, lo udah kaya mayat hidup, tau?" Tidak ada jawaban.

Aldy lalu mengguncang-guncang pundak Mia dan mengarahkan Mia agar menghadapnya, "mau sampe kapan kaya gini? Lo nggak bergerak sama sekali selama 6 jam! Heh liat gue!" Tangan Aldy merangkup muka Mia lalu membuatnya menatap mata Aldy.

Mia lalu tersenyum lemah pada Aldy, "gue haus." Aldy tersenyum lebar mendengar suara yang akhirnya keluar dari mulut Mia. Aldy mengacak-acak rambut Mia lalu mencium keningnya, "gue gak nyangka bisa selega ini denger suara lo. Gue ambil minum dulu bentar." Kata Aldy lalu beranjak dari hadapan Mia.

Mia menarik nafas panjang lalu senyumnya tadi seketika menghilang. Mata Mia mengamati setiap sudut ruangan hingga akhirnya gerakan mata Mia berhenti saat menemukan apa yang dicarinya. Mia lalu beranjak dari tempatnya dan mengambil kunci mobil yang ada di meja dekat kamar Aldy lalu segera keluar dari apartemen itu tanpa mengelurkan suara.

**

Mobil Aldy akhirnya berhenti di parikiran sebuah bangunan satu lantai berlogo N.U.T.Z. tepat di atas pintu masuk utamanya. Nama club itu sebenarnya adalah gabungan dari para pemiliknya, Netta, Urinda, Tiara, dan Zarinda. Tapi terlepas dari nama-nama mereka, suasana club ini benar-benar membuat para pengunjungnya terlihat 'menggila'. Dari luar, bangunan bergaya abad pertengahan ini terlihat begitu teduh dan damai. Di dalamnya? Jangan tanya bagaimana suasananya.

Mia melangkahkan kakinya memasuki bangunan itu. Ingar bingar suara musik langsung terdengar di pintu masuk. Di lantai dansa, berpuluh-puluh orang menggerakan badan mereka mengikuti irama musik. Walaupun minim cahaya, Mia berjalan ke arah meja bar tanpa kesulitan sama sekali.

Sesampainya di meja bar, Mia langsung duduk di kursi tinggi dan mulai sibuk mencari orang yang ditujunya. Saat menemukan orang yang dicari, Mia langsung berteriak memanggil nama orang itu, berusaha mengalahkan musik yang terdengar di seluruh penjuru ruang.

"Sam!"

Orang yang bernama Sam seketika membelalakan matanya saat tahu siapa yang memanggilnya, "Mia? Tumben kesini lagi." Kata Sam masih dengan ekspresi terkejutnya.

"Apa kabar, Sam? Gila, gak nyangka lo masih tahan disini. Zarin belum juga promosiin lo jadi manajer?" Tanya Mia sambil tertawa kecil. Meski dalam hatinya ia sangat bersyukur Sam masih menjadi bartender di N.U.T.Z. sehingga memudahkannya mendapatkan apa yang ia inginkan dalam kondisinya saat ini.

"Eits, jangan salah. Gue sebenernya udah punya ruangan pribadi sekarang. Cuma masih seneng nongkrong di bar aja, kali aja bisa ketemu lo lagi, Mi. Eh, ternyata harapan gue terwujud sekarang." Kata Sam sambil tersenyum lebar, menggodanya.

Sam menatap Mia dengan wajah heran, "coba berdiri." Mia yang tidak mengerti lantas berdiri dengan raut kebingungan.

"Lo serius masuk kesini dengan pakaian itu? Mana Aldy?" Raut wajah Sam seketika berubah.

Mia tersenyum kecut. Ia bukannya tidak menyadari penampilan dia yang jauh berbeda dengan orang-orang disitu. Kaus lengan panjang, celana katun selutut, dengan flat shoes yang benar-benar flat. Kalau saja Mia tidak kenal dengan orang yang berjaga di pintu tadi, mustahil Mia bisa masuk ke sini. Selain penampilannya yang sudah acak-acakan, Mia juga tidak membawa KTPnya. Yang Mia bawa saat ini hanya pakaian yang dikenakannya, dan kunci mobil Aldy. Dan dari pertama masuk sampai sekarang, setiap orang yang melihatnya menganggap Mia gila karena salah kostum dan salah tempat.

"Gue sendiri. Dan please lo jangan ngabarin Aldy, oke?" Pinta Mia dengan suara memelas.

"Lagi berantem sama Aldy? Karena ini adalah kali kedua lo sendiri kesini, dan yang pertama karena lo berantem hebat sama dia." Kata Sam sambil membuat punch milik salah satu pengunjung di samping Mia. "Muka lo pucet banget. Separah itukah kalian berantemnya?" Sam mengangkat wajah Mia dengan jemarinya, khawatir. "Lo tau, lo bisa datang kapanpun ke gue, Mi." Lanjutnya.

Mia tersenyum, "gue sibuk," lalu nyengir.

Sam langsung mengacak-acak rambut Mia, "susah banget ya, ngasih perhatian ke lo itu? Mau gue panggilin Zarin?"

Mia nenatap tajam Sam, "jangan, lah! Males banget gue dia pasti nanyain Aldy mulu. Lo mau dia ngetawain gue dengan penampilan yang kaya gini? Udahlah, biasa ya, Sam. Gue lagi butuh banget sekarang."

"Gue pikir lo udah nggak minum." Kata Sam heran. Yang dijawab Mia dengan senyum tipis. "Bener-bener parah, ya?" Tanya Sam tambah khawatir. Ia tidak akan melepaskan matanya dari Mia malam ini.

**

Mia sedang menikmati cairan di dalam gelasnya, saat seseorang menarik gelasnya dengan paksa. Mia menghela nafas. Secepat inikah dirinya ditemukan?

Melihat Aldy menarik gelas dari tangan Mia dengan kasar, Sam langsung menghampiri mereka.
"Gelas keberapa?" Pertanyaan Aldy sebenarnya ditujukan kepada Mia, tapi berhubung fokusnya sudah sangat berkurang, ia malah mengambil gelas yang direbut Aldy tadi dan menenggak isinya sampai habis.

"Al, udahlah biarin aja Mia."

"Lo udah gila? Gelas keberapa?" Aldy mengulangi pertanyaannya dengan suara dingin.

"Lima." Jawab Sam tak kalah dingin. "Lo yang gila, ngapain Mia sampe dia parah kaya gini?"

"Bukan urusan lo."

"Gue tau kapasitas Mia. Lo bisa percayain dia sama gue, Al." Kata Sam sambil menatap Aldy tajam.

"Bukan itu masalahnya, ck. Ayo Mi, balik." Dan saat Aldy menoleh, Mia sudah menghilang dari sisinya.

"Gue mohon banget kalau dia kesini lagi atau ngehubungin lo, langsung kabarin gue." Kata Aldy sambil berlalu. Ia kemudian mengeluarkan telepon genggamnya.

"Halo, Fin?"
....
"Iya dia langsung pergi tadi abis gue dateng"
....
"N.U.T.Z. nanti gue ceritain."

Kamis, 26 Februari 2015

Black and White

Dear Dias

Terimakasih karena sudah membuat harapan yang tadinya sudah sedikit padam jadi menyala lagi,

terimakasih karena sudah bilang Alhamdulillah saat tau orang yang di foto itu adalah adik gue,

terimakasih karena sudah bilang merasa bete saat temen kita itu meledek gue terus,

iya, gue kangen,

iya, gue cemburu,

gue cukup tidak menyangka bahwa lo masih penasaran dengan orang itu, yang sebenarnya menurut gue, lo pasti sudah tau siapa orangnya dari dulu

Tapi, berhubung lo sudah membuat janji dengan 3 orang teman kita itu, gue rasa harapan akan tetap menjadi harapan, tidak menjadi kenyataan

Pipi lo cuma jadi sedikit lebih tembem, kok. Jadi jangan gak makan gara-gara itu, ya.

Anna

Oh iya, takutnya gue gak sempet bilang langsung, hati-hati ya kalau pulang malem, tau kan sekarang lagi rawan begal? Di daerah jalan pulang lo udah rawan sekarang.

**

Dias tersenyum saat membaca surat yang Anna tulis pada blognya. Tidak menyangka Anna sudah berani sefrontal ini sekarang.

Sabtu, 14 Februari 2015

Valentine's Day

Oke sebenernya tulisan gue ini bukan sepenuhnya tentang hari valentine sih, cuma berhubung hari ini adalah hari valentine, yaah gak apa-apalah ya ikutan dikit..

Sebelumnya gue mau cerita sedikit tentang hari ini. Harusnya, hari ini bisa dibilang 'one of best day of my life', karena tadi pagi akhirnya gue mendapatkan novel yang sudah gue tunggu-tunggu dari beberapa bulan yang lalu, dan meskipun masih pre-order setidaknya gue dapat memastikan bahwa gue akan mendapatkan novel itu + ttd penulisnya. Btw, itu novelnya Sitta Karina - Lukisan Hujan.

Lalu hari ini itu ada promo 'buy one get one free' dari  Sport Station, dan berhubung gue sangat menginginkan running shoes, promo ini tentunya sangat membantu disaat kondisi finansial gue yang sedang dalam keadaan tidak cukup baik. Tapi kemudian ada suatu hal yang membuat hari gue tidak cukup mengenakkan. Padahal gue dapat sepatunya, walaupun bukan sepatu yang selama ini gue incar.

Ya, ini berhubungan dengan seseorang. Orang ini sudah cukup sering gue bahas di blog. Hal ini membuat gue tiba-tiba memikirkan sebuah momen -belum terjadi tentunya- , dan terciptalah cerita ini.

Ini momennya...

Anna sedang menonton tv sambil chatting dengan temannya saat salah satu temannya itu mengirimkan pesan yang membuatnya sedikit terkejut,

Gue tau sih ini sudah malam, tapi boleh keluar rumah sebentar?

Anna melirik jam dinding di atas tv, jarum jam menunjuk ke angka 10.

Tanpa berpikir dua kali Anna langsung izin kepada ibunya dan segera keluar rumah. Ternyata temannya sudah menunggu di depan pagar.

"Kenapa, As?" Tanya Anna sambil membuka pagar lalu mempersilahkan Dias untuk masuk, tapi Dias memilih tetap di luar pagar, "di sini aja, An. Gue bentar doang, kok."

Anna menatap Dias, menunggunya mengatakan sesuatu. Dias lalu mengulurkan tangannya sambil memberikan tiga pucuk bunga mawar berwarna merah muda.

"Bunga?" Tanya Anna heran.
"Iya. Sekarang hari valentine kan?"
"Iya sih. Cuma aneh aja, kok tiba-tiba ngasih bunga?" Anna seketika merasakan detak jantungnya berdetak lebih cepat. Anna menatap mata Dias, dia tau mereka memang dekat, tapi sepertinya hal yang dipikirkannya saat ini adalah sesuatu yang cukup mustahil. Tapi, mungkinkah?

"Harusnya tadi lo yang nemenin gue, jadi gue bisa ngasih bunga ini pas kita lagi makan. Malam mingguan, di hari valentine. Pas kan? Tanggalnya bagus."

Anna mencoba menahan senyumnya, tidak berani berharap. Berusaha untuk menyangkal apa yang dipikirkannya saat ini. "Dan gue ngomongnya gak perlu buru-buru gini karena udah malem. Lo tau kan gue mau ngomong apa?"  Tanya Dias.

"Ngomong apa, As?"

"Kalau lo terima ambil bunganya ya, kalau nggak lo pamit masuk aja."

Anna tertawa, "terima apa?"

"Gue harus bener-bener ngomong ya?" Tanya Dias sambil tersenyum dan menatap mata Anna.

Anna tertawa sambil menatap Dias tepat di matanya. Menantang.

"Anna."

"Iya?"

Dias tersenyum manis, "lo mau jadi pacar gue? Kalau iya, lo ambil bunganya, kalau nggak, lo masuk aja ke dalem rumah sekarang."

Anna terdiam beberapa menit sambil terus menatap ke bawah, kemudian mengambil bunga dari tangan Dias.

Ps: di post ini, dan post-post sebelumnya, entah kenapa waktu yang tercantum tidak sesuai dengan waktu gue mempostnya. Gue menulis ini sekitar pukul 10-11pm.

Senin, 02 Februari 2015

Not Totally Stranger

Bram menatap perempuan bersweater cokelat di depannya. Sepertinya ini adalah kali pertamanya bermain ice skating. Bram tersenyum geli setiap melihat perempuan itu terjatuh saat sedang mencoba berdiri tegak di atas sepatunya. Perempuan itu begitu menarik perhatian Bram sejak pertama melihatnya. Bram tahu perempuan itu tidak sendiri, dia berasama dua orang temannya. Tapi perempuan ini, terlihat begitu berusaha keras agar bisa mengendalikan dirinya di atas es. Seperti ingin membuktikan sesuatu.

Setelah mencoba beberapa kali, perempuan itu akhirnya bisa melakukan satu putaran di arena es. Tapi terjatuh saat sedikit lagi mencapai teman-temannya. Bram menghampirinya, ingin membantunya berdiri, tapi saat Bram hampir sampai di dekat perempuan itu, dia berhasil bangun sendiri tanpa pegangan. Hebat, pikir Bram. Perempuan itu lalu menghampiri teman-temannya yang berada di pinggir arena.

Seperti perempuan kebanyakan pada umumnya, mereka berfoto. Perempuan itu mengeluarkan telepon genggam dari kantung celana jeansnya. Setelah melakukan beberapa kali jepretan, handpone perempuan itu jatuh lalu meluncur diatas es. Mereka bertiga kelihatan panik karena tidak tahu harus bagaimana. Bram menggerakkan dirinya ke arah handpone itu. Tapi lagi-lagi ia telat, seseorang telah mengambilnya dan memberikan handpone itu kepada sang pemilik.

Perempuan itu lalu mencoba mengelilingi arena es lagi. Pada titik yang sama dia jatuh tadi, dia jatuh kembali. Dan seperti sebelumnya, dia bangun sendiri lalu menghampiri temannya sambil tertawa-tawa. Di putarannya yang ketiga, perempuan itu kembali jatuh di titik yang sama, masih dengan tawanya yang sama, tidak memperdulikan orang-orang yang berada di sekitarnya. Kali ini, dia melanjutkan putarannya tanpa menyingkir sebentar ke pinggiran arena.

Kalau dilihat-lihat, perempuan itu sebenarnya sedikit tidak biasa. Dari jatuh di pinggir saat ia baru masuk dan mencoba untuk berseluncur sedikit demi sedikit, saat tangannya beberapa kali tersangkut di pegangan yang ada di pinggir arena, telepon gengganya yang berseluncur bebas di permukaan es, sampai terjatuh berkali-kali di tempat yang sama. Bram terus memperhatikan perempuan itu, sampai akhirnya mereka bertiga meninggalkan arena.

Jujur saja, Bram tidak bisa melupakan perempuan itu meskipun sudah beberapa hari dari kejadian di arena ice skating tersebut. Perempuan itu terlalu menyita pikirannya. Padahal Bram tidak bertemu lagi dengannya sejak itu.

Beberapa minggu setelah itu, Bram tidak bisa menahan rasa terkejutnya saat melihat perempuan yang sama di tempat parkir mobil salah satu tempat wisata di Bandung. Mobil perempuan itu bersama teman-temannya terparkir tepat di samping mobil Bram sehingga Bram bisa dengan jelas mendengar percakapan mereka.
"Eh, lo kok nafas keluar uap sih? Gue nggak," kata perempuan itu sambil mencoba mengeluarkan uap dingin dari mulutnya. Saat itu cuaca memang sangat dingin karena sebelumnya hujan cukup deras, ditambah hari sudah sore.

Setelah mencoba beberapa kali akhirnya dari mulut perempuan itu keluar uap dingin, ia lalu tertawa bersama teman-temannya lalu mereka saling mengeluarkan uap dingin sambil terus tertawa.

Bram yang melihat kejadian itu menahan tawanya. Berbeda dengan teman-temannya yang menganggap perempuan itu bersama teman-temannya berisik dan norak. Sedangkan Bram sama sekali tidak terganggu dengan hal itu. Ia justru menganggap perempuan itu lucu. Sangat menarik.

Saat Bram sedang mengumpulkan keberaniannya untuk berkenalan dengan perempuan itu, dia justru masuk ke mobil dan pergi meinggalkan tempat parkir. Bram mengumpat, yang kemudian dijatuhi tatapan heran dari teman-temannya, "kenapa lo?" Tanya salah satu teman Bram.
"Gue tadi pengen kenalan sama cewek, tapi dia keburu balik duluan." Jelas Bram.
"Mana, mana? Cakep ceweknya?" Tanya teman Bram yang lain.
"Lo sih kalau sama cewek mikirnya lelet Bram. Makanya nanti kalau ada cewek kasih tau gue, biar gue yang kenalan." Kata temannya sambil terkekeh.
"Enak aja! Gue yang liat duluan," kata Bram tidak terima, "udah yuk ah balik, gue laper." Bram masuk ke mobil lalu berjanji pada hatinya sendiri, jika ia bertemu dengan perempuan tadi lagi, Bram tidakan berfikir dua kali, dia pasti akan langsung mengajak kenalan perempuan itu.

Minggu berikutnya, Bram benar-benar tidak percaya dengan keberuntungannya. Ini kebetulan.. atau takdir? Yang pasti Bram tidak akan menyia-nyiakan kesempatannya kali ini. Melihat perempuan itu duduk sendiri di dekat kaca sebuah kedai kopi, Bram bersyukur. Perempuan itu sendiri, dia pun sendiri. Setidaknya dia tidak perlu mendengar ejekan teman-temannya atau tatapan aneh teman-teman perempuan itu.

"Sori, gue boleh duduk di sini?" Tanya Bram dengan secangkir kopi dalam gelas kertas di tangannya.

Perempuan menatap Bram lalu melihat keadaan tempat itu. Banyak meja kosong. Dengan ragu, akhirnya perempuan itu mengiyakan.

"Gue gak suka minum kopi sendiri." Kata Bram memulai percakapan. Tapi perempuan di depannya hanya tersenyum. Bingung harus bagaimana, Bram mengajaknya berkenalan.

"Bram." Katanya sambil menjulurkan tangan.

Perempuan itu tersenyum lalu mengulurkan tangannya juga, "Audra. Tapi panggil aja Oda." Bram balas tersenyum sambil mengerutkan keningnya, nama panggilan yang lucu.

Melihat tatapan bingung orang di depannya Oda maklum, dia bukan orang pertama yang menganggap nama panggilannya aneh. "Kenapa? Namanya aneh ya?"

Bram tertawa kecil, "nggak, kok. Justru unik."

"Iya, unik bahasa halusnya aneh." Oda balas tertawa.

"Nggak, serius unik. Bukan aneh."

Mulai dari situ, percakapan mereka pun mengalir dengan lancar.

"Gue bukan orang jahat." Kata Bram.

"Orang jahat biasanya ngomong gitu." Oda menatap Bram dengan pandangan yang tidak dimengertinya. "Tapi gue tau kok lo bukan orang jahat." Lanjut Oda sambil tersenyum.

Bram mengeluarkan dompet lalu menunjukkan kartu mahasiswanya, seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia.

Oda tertawa. Tidak mau kalah, dia memperlihatkan kartu mahasiswanya, mahasiswi salah satu perguruan tinggi negerti ternama lain di Indonesia. Melihat tanggal lahir yang tertera sama dengan tempatnya kuliah, Bram kaget, "lo sendiri di sini? Apa sama temen?"

"Sendiri, kenapa?" Tanya Oda sambil memasukkan kembali kartu mahasiswanya.

"Pernah tinggal di Jakarta?" Bram balik tanya. Tapi hanya dijawab Oda dengan gelengan.

"Tapi tau jalan-jalan Jakarta, kan?"

Oda nyengir, lalu menggeleng, "nggak terlalu sebenernya." Oda tahu, mengungkapkan hal tersebut pada orang yang baru saja dikenalnya adalah berbahaya. Tapi entah kenapa dia merasa bisa mempercayai laki-laki di depannya.

Bram geleng-geleng kepala, "kalau gue orang jahat dan lo bilang gitu ke gue, gue pasti udah bakal culik lo, Da."

"Untungnya lo bukan." Oda menatap mata orang di depannya. Lalu tiba-tiba matanya melebar. "Heterochromia." Bisik Oda pada dirinya sendiri.

Bram menatap Oda takjub, "lo nyadar? Padahal ini gak begitu kelihatan jelas kalau sekilas."

Oda hanya mengangkat bahunya, "gue tipe orang yang merhatiin mata kalau lagi ngobrol sama seseorang." Bram tersenyum takjub.

"Jadi, lo bener-bener sendiri ke Jakarta. Ngapain?" Tanya Bram penasaran.

"Jalan-jalan aja."

"Sendiri? Kalau nyasar? Kenapa gak sama temen-temen lo aja jalan-jalannya?"

Lagi-lagi Oda mengangkat bahunya, "lagi pengen jalan-jalan sendiri aja. Kalau nyasar ya tinggal nanya orang shelter trans jakarta terdekat dimana, atau cari taksi, atau kalau udah panik tinggal telepon temen yang tinggal di Jakarta." Jelas Oda lalu nyengir. "Lo ngapain?" Lanjut Oda balik nanya.

"Lagi pengen jalan-jalan."

"Gue kira lagi pengen ngopi disini."

Bram menatapnya bingung, "kenapa emang?"

"Nggak kenapa-kenapa. Gue pikir lo emang mau ke sini. Habis lo kan orang Jakarta, kedai kopi ini bukan di pinggir jalan besar, cukup tidak terlihat malah. Tapi bisa tiba-tiba kesini, ya?" Jelas Oda.

Kali ini Bram yang mengangkat bahunya, "mungkin kebetulan. Atau jangan-jangan takdir?" Oda hanya membalas kata-kata Bram dengan tawa.

"Jadi, abis ini lo mau kemana?" Lanjutnya.

"Gak tau nih bingung. Tapi belum pengen pulang. Pengen ke kota tua, sih. Cuma kayaknya gak asik kalau sendiri, lagian udah sore pasti udah pada tutup. Mungkin abis ini ke Matraman terus pulang." Jawab Oda.

"Kan bisa jalan-jalan di luarnya aja. Emang belum pernah ke kota tua?"

"Udah pernah. Cuma belum pernah masuk ke bangunan-bangunnya. Pengen lihat."

"Kenapa? Penasaran?" Tanya Bram, penasaran.

"Gue suka bangunan-bangunan jaman dulu. Eropa lebih tepatnya. Dinding kokoh, tangga lebar, jendela tinggi, pintu besar. Pengen lihat langsung karena biasanya cuma lihat gambarnya aja. Dan tempat paling deket buat lihat langsung, ya di Jakarta." Jelas Oda.

Bram tersenyum sambil menatap Oda yang sedang menyesap kopinya. Hal unik lain yang dia temukan dari Oda.

"Gue bisa bawa kita masuk." Kata Bram tiba-tiba sambil berdiri. "Ayo, gue temenin. Gue bakal jadi tour guide lo sampe lo pulang nanti."

Oda menatap Bram yang sudah berdiri, mempertimbangkan.

"Kenapa? Lo takut jalan-jalan sama orang yang baru lo temui?" Tanya Bram sambil menatap Oda. "Tenang aja, ini bukan pertama kalinya kita ketemu, tau."

Oda menatap wajah Bram lebih dalam, mengingat-ingat. Tiba-tiba wajahnya menunjukan ingatan sekitar setahun yang lalu. "Oh iya. Kita pernah ketemu di angkot. Lo naik dari stasiun. Temen-temen lo...."

"Dorong-dorong gue supaya kenalan sama lo." Bram melanjutkan kata-kata Oda. Mereka berdua lalu tertawa bersama.

Ternyata mereka sudah bertemu jauh lebih lama dari yang Bram pikirkan selama ini.

Jumat, 12 Desember 2014

Karemia #6

Karemia, apa kabar?
Maaf waktu itu aku tiba-tiba menghilang. Aku nggak bermaksud untuk pergi saat itu. Aku hanya... aku mungkin sedikit kecewa kamu ngehindarin aku.
Maaf aku nggak pernah ngasih kabar. Ada urusan yang harus aku kerjakan. Saat masalahku selesai, kamu yang menghilang. Aku coba hubungin Aldy tapi dia juga nggak ada kabar.
Aku nggak bisa cerita panjang lebar, Aldy lagi melototin aku sekarang hehe
Aku cuma mau kasih kabar, aku akan menikah sebulan lagi. Pernikahan ini bukan keinginan aku. Kamu taulah, perjodohan bisnis.
Aku perlu kamu tau, bahwa yang terjadi atara kita selama ini nyata, Mi. Dan aku ingin mewujudkan semua itu. Perasaan aku ke kamu nggak pernah berubah. Aku perlu kepastian kamu. Kamu datang, yang terjadi berikutnya adalah kita, bukan kami.
Kalau kamu datang sebelum pernikahan dimulai, aku mungkin, tidak, pernihakan itu tidak akan terjadi. Aku sangat, sangat berharap kamu datang.
Mia memejamkan matanya lalu bersender pada sofa. Ya, mungkin Aldy benar. Mungkin ini memang yang terbaik. Kalaupun mereka jodoh, mereka pasti akan bertemu meskipun Aldy tidak memberikan surat ini.

Mia membuka matanya lalu melipat surat tersebut dan tersadar bahwa dibalik kertas itu masih ada tulisan tangan seseorang.

Mi, maaf aku nggak bisa datang di pemakaman tante Lily dan menemani kamu. Aku baru tau sebulan setelah pemakaman. Aku turut berduka cita. Aku tau kamu akan merasa sangat kehilangan, tapi aku yakin kamu pasti bisa melewati itu semua. Aku sayang kamu, Karemia.
Mia mengerutkan keningnya. "Aaal!" Teriak Mia memanggil nama Aldy.

"Apaan? Nggak usah pake teriak bisa kan? Kuping gue masih normal." Kata Aldy yang sedang memegang handuk, hendak mandi.

"Lo nyorat-nyoret surat Adri ya? Kemaren gue gak liat ada tulisan ini." Tanya Mia ketus.

"Nyorat-nyoret apaan?" Mia menunjukkan tulisan di belakang surat Adri. "Ooh itu, itu sih emang dari kemaren ada tulisannya, lo nggak nyadar emang?"

Mia menggeleng, tapi tatapannya kosong seperti sedang memikirkan sesuatu. 

"Kenapa? Lo mau ngambek lagi sama gue karena setahun yang lalu itu dia bilang sayang lo?" Tanya Adri sinis dengan menekankan kalimat satu tahun yang lalu.

"Bukan, bukan." Bantah Mia. "Ini pemakaman Tante Lily siapa, Al?"

Aldy menarik kertas yang berada dalam genggaman Mia. "Mi, jangan bercanda."

"Bercanda apaan sih? Gue emang keliatan kaya tampang lagi bercanda?"

"Gak lucu, serius deh, Mi." Nada bicara Aldy sudah mulai berubah.

"Gak mungkin kan Mama gue sendiri meninggal dan gue gak tau? Mama tuh hilang Al, hilang! Pergi ninggalin gue. Mungkin dia udah sama keluarga barunya sekarang, mungkin sekarang gue udah punya adik tiri." Jelas Mia sambil terkekeh dengan nada frustasi.

"Mia, sumpah ini sama sekali gak lucu!" Bentak Aldy.

Mia mengguncang-guncangkan badan Aldy, lalu teriak. "Liat gue! Gue. Serius. Ada apa sih, Al? Mama ada kan? Mama masih hidup kan? Iya kan Al? Mama mungkin ninggalin gue. Tapi mama ngga mungkin meninggal, Al." Air mata Mia mulai turun membasahi pipinya. Aldy langsung memeluk Mia saat itu juga, tapi ditepisnya. Mia mengambil handpone lalu terdiam sambil mendengar nada sambung.

Terdengar suara pria di ujung telepon. Mia berbicara sebentar lalu terdiam mendengarkan selama beberapa menit. Tak lama Mia memutuskan sambungan telepon lalu berteriak, "orang gila!" lalu melempar teleponnya ke seberang ruangan dan menangis sejadi-jadinya.

Rabu, 12 November 2014

Karemia #5

"Mau nginep sekalian disini?" Tanya Fino. Nadanya biasa saja sebenarnya, tapi berhubung emosi Mia yang memang sedang tidak stabil, pertanyaan barusan Mia artikan sebagai sindiran.

"Kenapa? Gue udah kelamaan neduh di rumah lo, ya?"

"Lo tau bukan itu maksud gue. Gausah terlalu berlebihan deh menghadapi masalah, semuanya tuh ada maksudnya. Aldy ngelakuin itu ke lo bukan tanpa alasan."

Mia memutar bola matanya, "Lo tau apa perbedaan antara lo dan Tama? Lo tuh galak, kerjaannya marahin gue, nyindir-nyindir gue. Tama ga pernah gitu."

"Oh jelas. Ga mungkin dia galak-galak sama lo. Nanti incerannya malah kabur. Lo belum tau aja dia gimana aslinya." Fino mengatakannya dengan sangat santai. Dan langsung dibalas dengan tatapan tajam Mia.

Fino mendekatkan wajahnya kearah Mia, "Apa? Gue mengatakan yang sebenarnya. Gue kenal dia udah dari dalam kandungan. Kami itu sangat, sangat, sangat mirip. Dia bahkan mungkin lebih parah dari gue. Belum tau aja." Kata Fino sambil tersenyum lebar.

"Kalian ngapain liat-liatan gitu deket banget? Wah parah lo Fin, nikung sodara sendiri? Gue tau lo udah putus sama Meri, tapi jangan Mia juga, dong." 

"Lo putus? Kapan?" Tanya Mia kaget.

"Tadi pagi, Mi. Ga seru banget ya putus pagi-pagi?" Jawab Tama lugas. "Fin, meskipun muka kita sama, Mia gak bakal mau sama lo. Dia maunya sama gue. Iya kan?" Tama mencoba merangkul tapi langsung ditepis oleh Mia.

"Bentar dulu, lo putus? Kok bisa? Gara-gara masalah kemaren?" Mia bertanya dengan nada sangat penasaran.

Hubungan Fino dan Meri sebenarnya memang sudah lama tidak akur lagi. Mia tidak tahu pasti apa masalahnya, Fino belum cerita secara lengkap. Tapi masalah terakhir mereka, Mia ikut terlibat. Saat itu, teman baik Fino dari kecil mengunjunginya di Malang. Mereka menghabiskan waktu bersama seharian, dan Mia bersama Ruben juga ikut. Fino dan Ina, nama teman kecilnya, bersikap seperti  mereka adalah sepasang kekasih. Mereka selalu bersikap seperti itu dari dulu. Meskipun masing-masing dari mereka sudah punya pasangan. Dan bagi orang yang tidak tahu, melihat mereka jalan berempat seperti sedang double date. Padahal apa yang terjadi diantara Fino dan Ina adalah murni persahabatan. Yang membuat semuanya rumit, Fino hari itu tidak memberi kabar Meri sama sekali. Fino lupa, saking lamanya tidak bertemu dengan Ina. Parahnya, mereka bertemu Meri di sebuat tempat wisata. Meri yang tidak tahu menahu tentang Ina, marah besar dan menganggap Mia ikut bersekongkol dengan Fino untuk menyembunyikan ini dari dirinya.

"Udahlah, masalah itu nanti aja diomonginnya. Jadi gimana, lo mau nginep?" Tanya Fino.

Mia nenggeleng, "Gak tau. Gue gak pengen ngerepotin kalian dengan hal kaya gini, apalagi kalau sampai harus nginep. Tapi, gue masih males ketemu Aldy. Gue gak ngerti kenapa dia tega ngelakuin itu ke gue. Dia tau banget gimana perasaan gue ke Adri, dia tau gimana gue saat tiba-tiba dia ngilang, gimana saat.." Mia menghentikan ucapannya, menggeleng perlahan lalu melanjutkan, "dia harusnya ngasih surat itu ke gue. Gak seharusnya dia nyembunyiin itu dari gue, selama satu tahun!" Jelas Mia dengan meninggi. 

"Terus apa? Kalau Aldy emang ngasih surat itu ke lo, lo mau nyamperin Ardy? Batalin pernikahannya supaya dia bisa balik sama lo, gitu?" Tanya Fino sinis.

"Ya nggak gitu juga, sih." Balas Mia pelan.

"Gak gitu gimana? Lo mengatakan maksud lo dengan jelas tadi."

Mia memejamkan matanya lalu bersender pada sofa, dia teringat salah satu kalimat dari surat Adri.

Kalau kamu akhirnya memutuskan untuk datang sebelum pernikahan, aku mungkin akan mempertimbangkan lagi keputusanku untuk menikah saat itu.
"Kalau gue tau sih gak mau ya, punya cewek ya masih belum bisa ngelepasin masa lalunya. Dan bukan aja belum bisa lepas, tapi ini masih berharap! Gue gak kebayang mantan lo dulu. Dia sadar gak ya kalau hati lo sebenernya bukan milik dia selama itu?" Nada bicara Tama terlihat santai, tapi kalimatnya barusan terdengar seperti tamparan bagi Mia. Mukanya yang biasanya terlihat iseng, kali ini terlihat sangat serius.

"Pantes aja ya, lo biasa aja waktu putus sama siapa tuh namanya? Rian? Eh, Ruben ya?"

"Jadi udah nyadar kan? Tau bakal jadi apa kalau Aldy ngasih surat itu ke lo? Kalau gue jadi Aldy, gue juga bakal nyimpen rapat-rapat itu surat. Tapi mungkin, gue cuma akan menyimpan suratnya selama seminggu aja. Jadi lo gak perlu berharap selama ini, nyia-nyiain orang yang bener-bener perduli sama lo." Jelas Fino, "jadi lo masih berharap sama orang ini Karemia?" Lanjutnya.

"Nggak." Jawab Mia cepat. "Tapi gak secepat itu juga gue bisa ngilangin Adri dari kepala gue, Fin."

"Itulah gunanya gue di sini, Mi." Kata Tama dengan cengirannya. Sikapnya sudah kembali biasa lagi.
Mia hanya tertawa tapi tidak menanggapi kata-kata Tama, "gue mau pulang. Biar Aldy aja yang jemput. Eh, HP gue mana ya?" Mia meraih tasnya tapi tidak menemukan HPnya disitu. Di sofa juga tidak terlihat.

Tiba-tiba Mia memekik kaget. Ada yang memeluknya dari belakang!

"Jadi udah gak marah sama gue?" Mia berbalik lalu disambut dengan cengiran Aldy. Mia tertawa, menggeleng, lalu memeluk Aldy.

"Fin, balikin HP gue, Fin."